Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Sunday, January 15, 2012

Langsing Melumpuhkan Rasa Lapar

Wow...langsingnya! Kok bisa ya? Padahal anaknya sudah 2. Ingin rasanya memiliki tubuh langsing...bisa gak ya?.Jawabannya ßΧÃ....! Kita harus mengetahui dan mengerti apa γɑиƍ terjadi dalam tubuh kita saat kita hendak memasukkan makanan.

Sebenarnya lemak dalam tubuh kita memproduksi sinyal kimia di dalam darah γɑиƍ memerintahkan tubuh untuk berhenti makan. Masalahnya seringkali kita melanggar sistem monitor internal dan terus mengisi perut dengan makanan padahal tubuh kita tidak lagi merasa lapar.

Salah satu zat kimia terpenting dalam proses pengurangan berat badan yaitu LEPTIN, sejenis protein γɑиƍ dikeluarkan oleh timbunan lemak. Arti kata leptin (Yunani=langsing): melumpuhkan rasa lapar dan mendorong tubuh untuk membakar lebih banyak kalori dengan cara mengaktifkan CART(Cocaine Amphetamine Regulatory Transcript)yaitu pengatur unsur-unsur kimia di dalam otak.

Hormon leptin inilah γɑиƍ mengisyaratkan rasa kenyang. Masalahnya tubuh juga memiliki kemampuan untuk mengabaikan pesan leptin...kok bisa?

Hormon Leptin memerintahkan sistem pertahanan tubuh dengan mengirimkan zat kimia di pusat kepuasan(otak) untuk melindungi dari makanan enak. Di tempat berbeda di pusat kesenangan (otak) memberi sinyal "sudah lama tidak makan makanan ini, sekali-kali boleh lah".Respon ini disebut resistensi leptin/penolakan leptin.

Untuk kasus obesitas tubuh memiliki kadar hormon leptin tinggi dan tubuh juga menciptakan resistensi leptin tinggi juga (level akut) sehingga pusat kepuasan tidak bisa lagi menerima dan merespon sinyal-sinyal hormon leptin.

Penurunan berat badan (diet) dapat dilakukan secara efisien dengan memicu hormon leptin bekerja optimal dengan berolahraga misal berjalan kaki selama 30 menit γɑиƍ dapat menciptakan otot-otot agar sel-sel otak bisa menjadi lebih sensitif dan responsif terhadap hormon leptin. Silahkan dicoba dan buktikan!

Sunday, March 1, 2009

10 Panduan Mengasuh Anak Bagi Ayah-Ibu Bekerja

Tak lama lagi anakku akan lahir, betapa senangnya hidup terasa lebih berarti. Tetapi …aku harus bekerja untuk kebutuhan finansial dan karier, tentunya bersama suami yang juga bekerja. Lalu bagaimana aku dapat mengasuh dan membimbing anakku?. Banyak informasi telah kudapat dari berbagai sumber tentang mengasuh anak bagi orangtua pekerja, kesimpulannya sebagai berikut:

1. Waktu
Suatu hubungan dapat terpelihara dengan baik memerlukan waktu, termasuk hubungan orang tua dengan anak. Tidak perlu berjam-jam yang penting orang tua secara konsisten meluangkan waktu bersama anak-anak setiap hari. Dan ketika bersama jauhkan gangguan dan konsentrasikan perhatian kepada si anak.

2. Jadilah pendengar yang baik
Anak-anak akan menjadi lebih semangat untuk berbagi perasaan dan pikiran ketika kita sebagai orang tuanya mau mendengarkan apa yang mereka katakan. Kepolosan seorang anak tampak dari setiap kata-kata yang diucapkannya. Sebaliknya kalau orang tua sering merendahkan perkataan anak, maka anak akan menarik diri dari orang tua dan ia lebih percaya pada orang lain entah itu pengasuh atau teman. Oleh sebab itu jika kita ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, jadilah pedengar yang baik. Timbul kepercayaan anak pada orang tua sehingga setiap kali anak mendapat masalah ia mengijinkan kita untuk membantu mereka.

3. Jangan membiarkan rasa bersalah
Rasa bersalah akibat seharian kerja di luar rumah seringkali dilampiaskan dengan membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Dengan pengertian dan kepercayaan yang sudah ditanamkan ke anak, setiap orang tua tidak perlu ragu lagi untuk bertindak tegas terhadap anak.

4. Tentukan harapan yang jelas
Setiap orang tua tentunya memiliki harapan pada anaknya. Memberitahu anak apa yang kita harapkan darinya membentuk perilaku yang baik. Jangan ragu melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Kebanyakan anak pasti akan mengeluh, dengan kesabaran dan pengertian, kita harus membuat anak senang melakukannya, seperti misalnya rajin belajar ,dsb.

5. Jangan menggantikan kasih sayang atau waktu dengan uang
Sering kali kita merasa berdosa karena telah meninggalkan anak lalu dengan berbagai upaya kita berusaha menebusnya, salah satunya selalu menuruti keinginan si anak dengan uang. Wujud kasih sayang dapat berupa perhatian, pengajaran, bimbingan, ajakan, menjadi sahabat dsb. Uang merupakan salah satu sarana dalam mewujudkan kasih sayang.

6. Jangan terlau sering gonta-ganti pengasuh
Kepribadian si anak terbentuk dari lingkungan sekitarnya termasuk didikan dari pengasuh. Sering berganti-ganti pengasuh sangat mempengaruhi psikologis anak. Mengapa? Karena kebijakan setiap pengasuh dalam mendidik anak tentunya berbeda-beda itulah yang menyebabkan si anak mengalami kebingungan dalam menentukan sikapnya. Bekerja sama dengan pengasuh sehingga tercipta hubungan yang harmonis sangat memberikan dampak positif bagi si anak.

7. Kuncinya pengawasan
Walaupun jarak dan tempat memisahkan orang tua dengan buah hatinya, namun tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak mengawasi perkembangan si anak.Meskipun dijaga oleh pengasuh, kita sebagai orang tua tetap wajib mengawasi setiap perilaku dan perkembangan si anak.

8. Beri perhatian lebih saat ia baik
Sebuah prestasi layak mendapatkan penghargaan termasuk anak kita bila ia berperilaku baik atau menghasilkan sesuatu yang baik. Penghargaan yang diberikan tidak selalu dalam wujud barang namun dengan kata-kata perhatian, penghargaan membuat si anak lebih dihargai dan merasa diterima di lingkungan keluarganya.

9. Hukuman itu untuk mendidik
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Oleh sebab itu kita sebagai orang tua harus mampu mengenal secara dalam karakter anak. Tindakan tegas tentang peraturan-peraturan yang harus diterapkan harus dijalankan dengan baik termasuk didalamya ada sangsi/hukuman apabila dilanggar. Memberikan hukuman sebaiknya tidak dilakukan secara fisik namun didikan yang harus dijalankan secara tegas dan nyata.

10. Berikan teladan dalam membina hubungan
Anak-anak pasti meniru orang tuanya karena itu kita harus memberikan teladan yang baik bagi anak-anak termasuk dalam menjalin hubungan pada setiap anggota keluarga. Meminta maaf bila bersalah, memberikan penghargaan, suka menolong, memiliki empati, dsb. Bagaimana sifat dan karakter anak tergantung oleh didikan dan teladan dari orang tuanya.

Saturday, February 28, 2009

Menumbuhkan Semangat Belajar Anak

“Malas ah…! Belajar lagi…! Belajar lagi….!”. Pernyataan seperti ini sering kali muncul diucapkan seorang anak setiap kali ia harus belajar. Bagaimana seorang anak bisa memperoleh prestasi belajar yang baik jikalau setiap kali memulainya semangat belajarnya sudah pudar. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua untuk memberikan dan meningkatkan semangat belajar anak:

* Memberikan motivasi
“Jikalau kamu mengerti pelajaran ini kamu pasti bisa mengerjakan soal ini”. Kata-kata motivasi harus sering diberikan agar anak dapat mengerti arah dan tujuan belajarnya. Dengan pengertian inilah semangat/dorongan belajarnya dapat tumbuh dengan sendirinya. Tentunya setiap orang tua harus bijaksana dalam memberikan motivasi/tujuan pada setiap anak sesuai dengan usia dan karakter si anak.

* Menjelaskan manfaat belajar
“Dengan belajar, kamu dapat meraih segala cita-citamu, bagaimana kita bisa menjadi dokter jika kita tidak pernah mau belajar”. Dengan menjelaskan manfaat belajar baik untuk masa kini dan masa depan diharapkan setiap anak dapat selalu tekun belajar.

* Memberi kesempatan belajar
Juga berarti tidak menganggu anak saat belajar. Malah seharusnya semampunya kita membimbing dan mengarahkan anak dalam proses belajarnya. Dengan mengajak anak ke perpustakaan, pameran-pameran ilmiah, tempat-tempat bersejarah, diharapkan dapat menimbulkan suasana belajar bagi si anak.

* Menciptakan suasana persaingan
Tentunya persaingan yang sehat dalam arti bukan hanya semata-mata berupa angka tetapi setiap peningkatan yang sudah dicapai. Persaingan dapat dilakukan dengan diri sendiri misalnya dengan mengejar target maupun dengan orang lain.


* Mencukupi sarana belajar
Disesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak. Seperti misalnya sarana belajar anak TK (pensil warna, crayon) dan SMP (jangka,busur) tentunya tidak sama.

* Memberikan contoh
Anak selalu mencontoh dari lingkungannya termasuk dalam hal belajar. Jika ia sering melihat orang orang di sekelilingnya belajar maka ia pun akan mencontoh.

* Memberi hadiah
Ini salah satu wujud penghargaan yang selalu ingin diperoleh oleh setiap anak dalam pencapaian sebuah prestasi. Bentuknya tidak harus selalu materi dapat berupa kasih sayang, perhatian, pujian dll.

Dari Lingkungan Hidupnya Anak Belajar


Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela,
Kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang lain.

Jika anak biasa hidup dalam permusuhan,
Kelak ia akan terbiasa menentang dan melawan.

Jika anak biasa hidup dicekam dalam ketakutan,
Kelak ia akan terbiasa merasa resah dan cemas.

Jika anak biasa hidup dikasihani,
Kelak ia akan terbiasa meratapi nasibnya sendiri.

Jika anak biasa hidup diolok-olok,
Kelak ia akan terbiasa menjadi pemalu.

Jika anak biasa hidup dikelilingi perasaan iri,
Kelak ia akan terbiasa merasa bersalah.

Jika anak biasa hidup serba dimengerti dan dipahami,
Kelak ia akan terbiasa menjadi penyabar.

Jika anak biasa hidup diberi semangat dan dorongan,
Kelak ia akan terbiasa percaya diri.

Jika anak biasa hidup banyak dipuji,
Kelak ia akan terbiasa menghargai.

Jika anak biasa hidup diterima lingkungan,
Kelak ia akan terbiasa mencintai.

Jika anak biasa hidup tanpa banyak dipersalahkan,
Kelak ia akan terbiasa senamg menjadi dirinya sendiri.

Jika anak biasa hidup jujur,
Kelak ia akan terbiasa memilih kebenaran.

Jika anak biasa hidup mengenyam rasa aman,
Kelak ia akan terbiasa percaya diri dan mempercayai orang –orang di sekitarnya.

Jika anak biasa hidup diperlakukan adil,
Kelak ia akan terbiasa dengan keadilan.

Jika anak biasa hidup mendapat pengakuan dari sekelilingnya,
Kelak ia akan terbiasa menetapkn sasaran langkahnya.

Jika anak biasa hidup ditengah keramah tamahan,
Kelak ia akan terbiasa berpendirian :”Sungguh indah dunia ini !”.
Bagaimana dengan anak anda ?

By Dorothy Low Noffe